Komet antarbintang 3I/ATLAS, yang secara resmi ditetapkan sebagai C/2025 N1 (ATLAS), diidentifikasi pada 1 Juli 2025 oleh sistem teleskop ATLAS di Chile.
Lintasan hiperboliknya menegaskan asal usulnya di luar tata surya, menjadikannya objek antarbintang ketiga yang terdeteksi setelah ‘Oumuamua dan Borisov.
Objek tersebut memiliki inti es dengan koma dan ekor, melepaskan gas dan debu saat mendekati Sol.
- Perihelion terjadi pada 30 Oktober 2025 pada 1,36 unit astronomi (AU).
- Pendekatan terdekat ke Terra tercatat pada 19 Desember 2025, sekitar 1,8 AU.
- Jarak minimum menjaga komet tanpa risiko dampak.
Pengamatan lintasan terkini
Para astronom mendeteksi variasi lintasan 3I/ATLAS pada akhir Desember 2025.
Data menunjukkan percepatan non-gravitasi, yang umum terjadi pada komet akibat sublimasi es.
Perubahan ini menyempurnakan model orbital, namun tidak menimbulkan ancaman bagi Terra.
Observatorium internasional memantau fenomena tersebut untuk lebih memahami perilaku pengunjung antarbintang.
https://twitter.com/NightSkyNow/status/2005542161962705059?ref_src=twsrc%5EtfwKomposisi dan aktivitas komet
3I/ATLAS menunjukkan aktivitas yang intens, melepaskan karbon dioksida dan uap nikel.
Teleskop seperti Hubble dan Parker Solar Probe menangkap gambar ekor koma dan ion yang sedang berkembang.
Pengamatan mengungkapkan jet berosilasi dalam strukturnya, mirip dengan komet di tata surya.
Studi memperkirakan usia objek tersebut miliaran tahun, kemungkinan berasal dari piringan tebal Via Láctea.
Komposisinya mengandung unsur-unsur seperti sianida dan debu kemerahan.
Konteks objek antarbintang
3I/ATLAS mengikuti ‘Oumuamua, terdeteksi pada tahun 2017, dan Borisov, pada tahun 2019.
Kecepatannya relatif terhadap Sol mencapai sekitar 60 km/s.
Lintasan miring dan mundur menyoroti perbedaan dari objek lokal.
Penelitian menggunakan misi seperti ExoMars dan MAVEN untuk menganalisis komet dari perspektif unik.
Data berkontribusi untuk memahami pembentukan planet di sistem bintang lainnya.
Pemantauan berkelanjutan
Tim NASA dan ESA terus mengawasi 3I/ATLAS saat bergerak menjauh dari Sol.
Komet tersebut tetap terlihat melalui teleskop hingga awal tahun 2026.
Peningkatan orbital menggabungkan pengamatan baru berbasis darat dan luar angkasa.
Sejauh ini tidak ada bukti fragmentasi yang signifikan.
Analisis sinar-X mendeteksi emisi yang terkait dengan interaksi dengan angin matahari.
Implikasi ilmiah
Studi 3I/ATLAS meningkatkan pengetahuan tentang dinamika komet antarbintang.
Variasi lintasan memberikan data berharga mengenai efek degassing.
Objek tersebut menuju ruang antarbintang, menuju konstelasi Gêmeos.
Para peneliti menyoroti peluang langka untuk membandingkannya dengan komet asli.
Pengamatan di masa depan fokus pada ekor ionik dan kemungkinan gangguan pada Júpiter.

