Berita Terbaru (ID)

Para astronom mendeteksi medan magnet di planet ekstrasurya yang didorong oleh angin dengan kecepatan hingga 25.000 km/jam

exoplanetas
exoplanetas - Catmando/Shutterstock.com

Para astronom telah mengidentifikasi apa yang mereka anggap sebagai bukti paling meyakinkan hingga saat ini bahwa planet-planet di luar Tata Surya memiliki medan magnet. Penemuan ini dapat membuka jalan bagi kemajuan signifikan dalam pencarian dunia yang mampu menampung air, menjaga kestabilan atmosfer, dan mungkin menampung bentuk kehidupan.

Studi tersebut meneliti tujuh exoplanet raksasa gas mirip Jupiter. Para peneliti bekerja dengan informasi yang dikumpulkan oleh Very Large Telescope (VLT), dari European Southern Observatory, di Gurun Atacama, di Chili, dan juga oleh teleskop Gemini North, di Hawaii.

Para ilmuwan menganalisis angin atmosfer di planet yang sangat panas ini. Kecepatan yang diukur berkisar antara 7.200 km/jam hingga lebih dari 25.000 km/jam, yaitu sekitar 15 kali lebih tinggi dari arus udara terkuat yang pernah tercatat di Jupiter.

Menurut tim, hasilnya menunjukkan bahwa angin tersebut dipengaruhi langsung oleh medan magnet planet. Para penulis menyoroti bahwa ini adalah bukti kuat pertama adanya magnetisme di planet-planet yang terletak di luar Tata Surya.

Penulis utama karya tersebut, Julia Seidel, mengatakan bahwa penemuan ini membuka babak baru dalam penyelidikan planet ekstrasurya. Baginya, mulai sekarang akan memungkinkan untuk membandingkan lingkungan magnetis dari berbagai dunia yang jauh, yang penting untuk menentukan planet mana yang mampu mempertahankan atmosfernya dan menawarkan kondisi yang kondusif bagi kehidupan.

Di Bumi, medan magnet berperan penting dalam melindungi atmosfer dari partikel yang berasal dari Matahari. Para ahli melihat mekanisme ini relevan untuk pelestarian air cair dan keberadaan kehidupan. Planet lain di Tata Surya, seperti Jupiter dan Saturnus, juga memiliki medan magnet yang kuat.

Bahkan setelah bertahun-tahun mempelajari exoplanet, para ilmuwan belum memperoleh pengukuran langsung tentang kekuatan medan magnet di dunia terpencil tersebut.

Planet-planet yang dievaluasi selalu satu sisinya menghadap bintang yang diorbitnya, sementara sisi lainnya tetap berada dalam kegelapan permanen.

Konfigurasi ini menyebabkan perbedaan suhu yang ekstrim antara kedua sisi planet. Sisi yang menghadap bintang mencatat panas yang hebat, sedangkan sisi sebaliknya memiliki suhu yang jauh lebih rendah. Perbedaan ini mendorong angin atmosfer berkecepatan sangat tinggi.

Awalnya, para peneliti hanya ingin memeriksa apakah angin di planet panas tersebut mengikuti pola yang sama. Namun, data tersebut menunjukkan temuan yang tidak terduga: semakin panas planet ini, semakin lambat kecepatan angin yang diamati.

Rekan penulis studi Vivien Parmentier menunjukkan bahwa pengamatan tersebut tampaknya berlawanan dengan intuisi. Menurutnya, planet yang lebih panas seharusnya memiliki lebih banyak energi untuk menggerakkan angin di atmosfer.

Penjelasan paling masuk akal yang diberikan oleh tim adalah adanya medan magnet global. Medan-medan ini akan bertindak sebagai semacam rem, memperlambat partikel bermuatan listrik dan mengurangi kecepatan angin.

Dari fenomena tersebut, para ilmuwan dapat memperkirakan intensitas medan magnet eksoplanet tersebut. Nilai yang diperoleh sebanding dengan yang tercatat pada planet-planet di Tata Surya itu sendiri.

Para peneliti memperkirakan bahwa beberapa medan magnet ini sekitar empat kali lebih kuat dari medan magnet Saturnus dan sekitar setengah kekuatan medan magnet Jupiter.

Selain mempengaruhi angin atmosfer, para ilmuwan percaya bahwa medan magnet ini dapat menghasilkan fenomena serupa dengan aurora yang terlihat di Bumi, akibat interaksi antara partikel matahari dan atmosfer planet.

Studi ini dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature Astronomy dan mewakili kemajuan yang relevan dalam memahami fungsi lingkungan di planet-planet di luar Tata Surya dan lingkungan manakah di masa depan yang dapat memenuhi kondisi yang sesuai untuk mendukung kehidupan.

To Top