Berita Terbaru (ID)

Pahami mengapa big bang bukan ledakan luar angkasa dan bagaimana alam semesta mengembang secara bersamaan

big bang
big bang - King of Canvas/Shutterstock.com

Asal usul alam semesta, yang dikenal sebagai Big Bang, sering disalahartikan sebagai ledakan kolosal yang terjadi pada titik tertentu di ruang angkasa, yang melemparkan materi ke dalam ruang hampa yang sudah ada sebelumnya. Namun, konsepsi populer ini sangat berbeda dengan apa yang sebenarnya dijelaskan oleh fisika modern. Faktanya, Big Bang mewakili perluasan ruang itu sendiri, yang terjadi secara serentak dan seragam ke segala arah, tanpa pusat yang pasti.

Perluasan mendasar ini berarti bahwa alam semesta tidak mengembang *menjadi* sesuatu, namun struktur ruangwaktu itu sendiri meregang, sehingga menambah jarak antar semua wilayah. Alam semesta awal yang sangat panas dan padat ini ada di mana-mana secara bersamaan, dan setiap titik telah saling menjauh sejak saat itu. Dinamika kompleks ini menentang intuisi tetapi merupakan dasar pemahaman kosmologi saat ini.

Mengungkap Gagasan Palsu tentang Ledakan Kosmik

Gambaran mental tentang bom yang meledak di ruang hampa yang sudah ada sebelumnya sangatlah keliru ketika mencoba menjelaskan Big Bang. Sebuah ledakan memiliki ciri-ciri yang sangat jelas: titik pusat ledakan, tepi jangkauan, dan pergerakan pecahan melalui suatu medium. Tak satu pun dari ciri-ciri ini berlaku pada model kosmologis.

Kosmologi modern, berdasarkan relativitas umum Einstein dan dikembangkan oleh Alexander Friedmann dan Georges Lemaître pada tahun 1920-an, menggambarkan alam semesta di mana jarak antar titik bertambah seiring waktu. Tidak ada benda yang bergerak melintasi ruang angkasa seperti pecahan peluru; sebaliknya, titik-titik itu sendiri tetap secara lokal sementara jarak di antara titik-titik tersebut meluas.

Apa yang terungkap dari pengamatan Hubble dan Lemaître

Penemuan Edwin Hubble pada tahun 1920-an sangat penting dalam mengkonfirmasi perluasan alam semesta. Pengukuran mereka menunjukkan bahwa galaksi-galaksi jauh menjauh dari Bima Sakti dan semakin jauh sebuah galaksi, semakin cepat pula ia menjauh. Hubungan ini sekarang dikenal sebagai hukum Hubble-Lemaître, sebagai pengakuan atas karya teoretis Georges Lemaître sebelumnya.

Awalnya, pengamatan bahwa segala sesuatu tampak menjauh dari kita mungkin menunjukkan bahwa Bumi adalah pusat alam semesta. Namun, model ekspansi seragam menghilangkan gagasan ini. Jika ruang antar galaksi mengembang secara homogen dalam skala besar, setiap pengamat di galaksi mana pun akan melihat pola yang persis sama: segala sesuatu bergerak menjauh, dengan kecepatan yang sebanding dengan jarak. Artinya tidak ada pusat yang mempunyai hak istimewa.

Penting untuk dicatat bahwa perluasan memanifestasikan dirinya dalam jarak antara struktur kosmik besar, seperti galaksi dan gugus galaksi. Struktur yang kohesif tidak teregang oleh perluasan alam semesta, melainkan disatukan oleh kekuatan lokal yang jauh lebih kuat:

  • Galaksi
  • Tata surya
  • atom
  • Benda apa pun yang ditahan oleh gravitasi atau gaya fundamental lainnya

Latar belakang gelombang mikro kosmik dan tidak adanya titik pusat

Salah satu bukti paling menarik untuk skenario “ekspansi ke mana-mana” adalah radiasi latar gelombang mikro kosmik (CMB). Dideteksi pada tahun 1964 oleh Arno Penzias dan Robert Wilson, radiasi ini adalah cahaya dingin dari alam semesta awal, sekitar 380.000 tahun setelah Big Bang, ketika kosmos pertama kali menjadi transparan.

Jika Big Bang merupakan ledakan yang terjadi dari satu titik, sisa cahaya dari ledakan tersebut hanya akan datang dari satu arah saja di langit. Namun, CMB tiba dengan keseragaman yang hampir sempurna dari segala arah, hanya bervariasi sedikit, seperti yang dipetakan oleh misi seperti COBE, WMAP dan teleskop luar angkasa Planck milik ESA. Homogenitas global dari sisa-sisa cahaya ini adalah bukti bahwa seluruh alam semesta, pada suatu saat, merupakan tempat yang panas dan padat dimana radiasi ini berasal, termasuk wilayah yang kita tempati saat ini.

Keterbatasan dan apa yang masih ingin dipahami oleh sains

Bahkan dengan model yang kuat, kosmologi masih menghadapi pertanyaan terbuka. Kata “permulaan” dalam konteks Big Bang menjadi bahan perdebatan. Model Standar menggambarkan evolusi alam semesta dari keadaan awal yang sangat panas dan padat, namun keberadaan singularitas sejati pada “nol seketika” dan ilmu fisika yang dapat diterapkan pada sepersekian detik tersebut masih merupakan bidang penelitian yang aktif.

Rekonsiliasi relativitas umum dengan mekanika kuantum merupakan hal mendasar untuk memahami momen-momen awal alam semesta. Meskipun para kosmolog dapat dengan yakin mendeskripsikan alam semesta hanya sepersekian detik setelah Big Bang, momen nol itu sendiri masih menjadi bidang yang konsensus ilmiahnya masih terbentuk.

To Top