Pemerintah Paraguay memutuskan pada 30 Juli 2026 untuk memanggil duta besar Brasil untuk Asunción. Tindakan tersebut bertujuan untuk menyampaikan catatan resmi sebagai tanggapan atas pernyataan Presiden Luiz Inácio Lula da Silva (PT) mengenai Perang Tiga Aliansi.
Dalam ranah diplomasi, tindakan pemanggilan duta besar seringkali menunjukkan ketidakpuasan suatu negara terhadap negara lain. Titik sentral ketegangan adalah pidato Lula pada tanggal 24 Juli, di kota Jacareí, di pedalaman São Paulo, di mana ia menyebutkan konflik historis ketika berdebat tentang pentingnya investasi di bidang pertahanan.
Menteri Luar Negeri Rubén Ramírez Lezcano bertanggung jawab untuk mengkomunikasikan keputusan tersebut, menegaskan bahwa pemerintah Paraguay akan berusaha untuk melindungi martabat dan kepentingan nasional. Ia juga mengungkapkan bahwa presiden Santiago Peña dan Lula mengadakan dialog telepon mengenai topik tersebut.
Selama wawancara pers, Ramírez Lezcano menyatakan bahwa pemerintah Paraguay memahami perasaan masyarakat mengenai peristiwa sensitif dan relevan ini dalam lintasan negara tersebut.
“Martabat Paraguay tidak dapat ditawar. Saya ingin Anda tahu bahwa, di bawah kepemimpinan Presiden Santiago Peña, kami telah menangani masalah ini pada tingkat tertinggi sejak awal,” kata rektor.
Pada tanggal 29 Juli, Kamar Deputi Paraguay mengeluarkan pernyataan resmi yang mengutuk pidato Lula. Menurut teks tersebut, pernyataan presiden Brasil “memutarbalikkan dan meminimalkan” pentingnya sejarah konflik tersebut.
Dalam catatan yang sama, badan parlemen menyatakan bahwa presiden “tidak menyadari kompleksitas awal konflik, penderitaan mendalam yang dialami rakyat Paraguay” dan konsekuensi serius yang disebabkan oleh perang.
Isi pernyataan Presiden Lula
Dalam pidatonya di Jacareí, Presiden Lula menyebutkan bahwa meskipun Brasil menghargai perdamaian, namun tidak boleh melupakan Perang Paraguay yang terjadi pada abad ke-19.
“Kami menyukai perdamaian, tapi kami tidak bisa melupakan bahwa, suatu hari, Paraguay memutuskan untuk menginvasi Brazil, menduduki Corumbá dan, secara bersamaan, Uruguay dan Argentina. Perang itu, yang pada awalnya tampak tidak signifikan, berlangsung selama lima tahun”, ujarnya.
Memahami konteks sejarah Perang Tiga Aliansi
Perang Tiga Aliansi, juga dikenal sebagai Perang Paraguay, merupakan bentrokan bersenjata paling luas dalam sejarah Amerika Selatan.
- Konflik tersebut bermula karena kombinasi beberapa faktor, pemicu utamanya adalah intervensi militer Brazil di Uruguay yang terjadi pada tahun 1864.
- Selama periode itu, pemimpin Paraguay saat itu, Francisco Solano López, menyatakan perang terhadap Brasil dan mengerahkan pasukan militer ke negara tersebut. Pada tahun 1865, Brazil, Argentina dan Uruguay membentuk Triple Alliance dengan tujuan menghadapi Paraguay.
- Konsekuensi perang ini mencakup hilangnya wilayah Paraguay, kehancuran total infrastrukturnya, dan krisis demografi yang parah.
- Berakhirnya konflik ditandai dengan meninggalnya Solano López, namun dampaknya terhadap negara masih terasa hingga saat ini.
Kamar Deputi Paraguay menegaskan kembali bahwa, dengan menyerahkan tanggung jawab atas konflik tersebut kepada negara tetangganya, Presiden Lula menimbulkan “penolakan dari berbagai sektor masyarakat”.

