Berita Terbaru (ID)

DNA memecahkan misteri berusia 25 tahun: sisa-sisa manusia di kantong tidur di Taman Olimpiade diidentifikasi

Bioquímica, cientista, laboratório, microscópio e estrutura de DNA
Bioquímica, cientista, laboratório, microscópio e estrutura de DNA - New Africa/ Shutterstock.com

Identitas pria yang jenazahnya ditemukan di kantong tidur di dalam taman nasional lebih dari dua dekade lalu akhirnya terungkap. Identifikasi dapat dilakukan melalui analisis DNA tingkat lanjut, sehingga terungkap nama Joseph Louis Serrao Jr., yang kontak terakhirnya dengan anggota keluarga tercatat pada tahun 1998.

  • Sisa-sisanya ditemukan oleh seorang peneliti pada tahun 2000 di dalam kantong tidur di Taman Nasional Olimpiade di Washington.
  • Awalnya, identifikasi korban tidak berhasil, namun kemitraan berikutnya antara pihak berwenang dan laboratorium genetika mendorong pencarian anggota keluarga.
  • Pada 10 Juni, Dinas Taman Nasional mengonfirmasi identitas pria tersebut sebagai Joseph Louis Serrao Jr.

Sebuah kasus misterius yang melibatkan sisa-sisa manusia tak dikenal yang ditemukan di kantong tidur lebih dari seperempat abad lalu akhirnya menemukan penyelesaiannya.

Melalui siaran pers resmi yang dikeluarkan Rabu, 10 Juni lalu, Dinas Taman Nasional (NPS) membenarkan identifikasi tersebut. Jenazahnya adalah milik Joseph Louis Serrao Jr., dan terungkapnya identitasnya secara langsung dikaitkan dengan kemajuan dalam pengujian genetik.

Menurut informasi yang dikeluarkan NPS, jenazah tersebut ditemukan pada bulan Juli 2000, ketika seorang peneliti menemukannya di dalam kantong tidur, terlindung di dalam tenda. Lokasi penemuan adalah daerah terpencil di daerah aliran sungai Sol Duc di Taman Nasional Olimpiade di Washington. Peneliti segera melaporkan temuannya kepada pihak yang berwenang.

Jenazahnya dipindahkan ke Kantor Pemeriksa Medis King County, sebagaimana dirinci oleh National Park Service (NPS). Di sana, ahli patologi forensik menyimpulkan bahwa korban, kemungkinan besar, adalah seorang pria berusia antara 30 dan 50 tahun, dan kematiannya terjadi antara enam bulan hingga empat tahun sebelum penemuan. Meski dilakukan penyelidikan intensif, identitasnya tetap menjadi misteri untuk waktu yang lama.

Selain itu, pihak berwenang melaporkan bahwa benda-benda yang ditemukan di dalam tenda dianalisis di Laboratorium Kriminalistik Patroli Jalan Raya Negara Bagian Washington. Namun, pada kesempatan itu, para ahli tidak mampu mengekstraksi sidik jari laten yang dapat digunakan dalam penyelidikan.

Othram, laboratorium genetika yang berbasis di Texas yang nantinya memainkan peran penting dalam mengungkap kasus ini, merinci daftar barang yang ditemukan di samping sisa-sisa, kantong tidur, dan tenda. Benda-benda tersebut antara lain teropong, ransel Jansport, tas bahu berwarna biru, gergaji lipat, dan selimut termal, elemen-elemen yang nantinya akan dianalisis dengan teknologi pengurutan DNA yang canggih.

Pada tahun 2024, seorang antropolog forensik yang bekerja dengan Kantor Pemeriksa Medis King County mengirimkan sampel DNA dari sisa-sisa tersebut ke laboratorium Othram. Dengan menggunakan bukti kerangka tersebut, para ilmuwan Othram mampu mengembangkan profil genetik korban secara lengkap, sehingga memberikan arahan investigasi baru bagi penegakan hukum, seperti yang diungkapkan oleh Othram sendiri dalam siaran persnya.

Petunjuk yang dihasilkan oleh informasi genetik terbaru mengarahkan Biro Layanan Investigasi NPS untuk menghubungi calon anggota keluarga di beberapa negara bagian, termasuk Hawaii. Proses ini melibatkan pengumpulan sampel DNA referensi, yang penting untuk perbandingan yang diperlukan.

Penyelidik mengkonfirmasi identitas jenazah tersebut sebagai milik Joseph Louis Serrao Jr., lahir pada tanggal 3 Desember 1960. Identifikasi ini merupakan hasil analisis gabungan dari bukti genetik, data silsilah, dan informasi tidak langsung, menurut pernyataan dari Othram.

Anggota keluarga Serrao mengatakan kepada pihak berwenang bahwa dia berasal dari Hawaii dan berada di negara bagian Washington sesaat sebelum dia menghilang. Mereka juga melaporkan bahwa kontak terakhir yang diketahui dengan Joseph terjadi pada tahun 1998.

“Kasus ini tidak terpecahkan selama hampir tiga dekade, namun tim investigasi tetap fokus pada identifikasi individu dan memberikan jawaban kepada keluarganya,” kata Debra Flowers, wakil kepala Biro Layanan Investigasi NPS, dalam siaran pers resmi.

Debra Flowers mengakhiri pidatonya dengan menyatakan: “Saya merasa sangat bangga atas kegigihan dan kolaborasi yang memungkinkan identifikasi ini, dan saya berharap hal ini dapat memberikan penghiburan bagi mereka yang selama bertahun-tahun mempertanyakan nasib Joseph.”

To Top