Departemen Kehakiman Amerika Serikat menyetujui akuisisi Warner Bros. Discovery oleh Paramount Skydance. Keputusan tersebut mengakhiri penyelidikan selama delapan bulan dan melepaskan salah satu operasi terbesar di sektor media dan hiburan dalam beberapa tahun terakhir, yang bernilai sekitar US$111 miliar.
Divisi Antitrust menyimpulkan bahwa merger tersebut tidak akan merugikan persaingan atau konsumen Amerika. Menurut organisasi tersebut, operasi tersebut bahkan dapat meningkatkan persaingan di pasar, terutama terhadap raksasa streaming seperti Netflix, Disney+, dan Amazon.
Prosesnya melibatkan pemeriksaan lebih dari 2 juta dokumen yang disediakan oleh perusahaan. Para pejabat mengamati tiga bidang utama: layanan streaming berlangganan, televisi linier, serta produksi dan distribusi film teater.
Dalam streaming, perusahaan baru akan menggabungkan Paramount+, Max dan Discovery+. Kementerian Kehakiman menilai kelompok yang dihasilkan akan memiliki kekuatan lebih untuk bersaing dengan platform terkemuka yang mendominasi jumlah pelanggan.

Mengenai TV linier, badan ini mempertimbangkan migrasi pemirsa yang terus-menerus ke layanan digital dan persaingan dari hak olahraga dan berita. Kesimpulannya adalah tidak ada risiko berkurangnya pasokan atau keragaman konten.
Dalam produksi film, analisisnya melibatkan pesaing seperti Disney, Sony, Universal, dan studio independen. Para peneliti mengamati bahwa strategi baru yang dilakukan oleh pemain kecil dan investasi oleh perusahaan teknologi dalam rilis bioskop menjaga sektor ini tetap dinamis.
Paramount memenangkan perselisihan sengit dengan Netflix untuk menguasai Warner. Tawaran tunai Paramount, yang lebih unggul dari pesaing streaming-nya, akhirnya menang. Miliarder Oracle Larry Ellison dan putranya David Ellison, CEO Paramount, memainkan peran penting dalam pembiayaan dan penataan kesepakatan tersebut.
Dengan persetujuan federal, jalan menuju penutupan transaksi, yang dijadwalkan pada kuartal ketiga tahun 2026, menjadi lebih jelas, tergantung pada otorisasi peraturan lainnya. Penggabungan ini menciptakan raksasa dengan studio ikonik, saluran TV, layanan streaming, dan waralaba global seperti DC dan HBO.
Para ahli menunjukkan bahwa gerakan ini mencerminkan tekanan untuk konsolidasi di sektor ini, mengingat meningkatnya biaya produksi konten dan kebutuhan akan skala untuk menghadapi pesaing teknologi.