Berita Terbaru (ID)

Penemuan fosil laut berusia 518 juta tahun menjelaskan evolusi taring laba-laba

Aranha reclusa do Mediterrâneo, aranha de violino
Aranha reclusa do Mediterrâneo, aranha de violino - Macrolife.it/ Istockphoto.com

Penemuan fosil laut tertanggal 4 Agustus 2026 memberikan wawasan baru tentang asal usul taring yang ditakuti laba-laba modern. Di dalam makhluk kecil ini, para peneliti di Universitas Leicester telah menemukan bukti tertua mengenai struktur yang berkembang menjadi mangsa, memberikan data penting tentang bagaimana nenek moyang laba-laba dan kalajengking menjadi predator yang efisien.

Sebuah tim ilmuwan dari Universitas Yunnan dan Universitas Leicester telah mengidentifikasi struktur tertua yang mendahului taring laba-laba dalam fosil berusia 518 juta tahun. Temuan ini menjadi tonggak sejarah dalam memahami evolusi karakteristik ini.

Taring adalah salah satu ciri paling khas dari laba-laba, yang dikenal luas fungsinya, baik dalam realitas Black Widow atau dalam fiksi Spider-Man. Namun, lintasan evolusi pelengkap ini dimulai jauh sebelum keberadaan spesies laba-laba saat ini.

Sebuah penelitian baru-baru ini, yang diterbitkan dalam jurnal Nature, menunjukkan Urokodia, makhluk laut kecil yang menghuni periode awal Kambrium, sebagai nenek moyang langsung dari alat berburu ini.

Bagaimana Urokodia Berhubungan dengan Evolusi Taring Laba-laba

Laba-laba adalah bagian dari kelompok invertebrata yang dikenal sebagai chelicerata, yang juga mencakup kalajengking dan kutu. Saat ini, lebih dari 100.000 varietas chelicerata telah dikatalogkan.

Makhluk seperti itu mempunyai anggota badan yang dapat diartikulasikan dan kerangka luar yang tahan. Keunikan utama chelicerata adalah sepasang pelengkap khusus, yang disebut chelicerae, yang terletak di bagian depan organisme. Tergantung pada spesiesnya, struktur ini dapat berfungsi sebagai penjepit atau taring, yang digunakan untuk menahan, menusuk, atau melukai mangsanya.

Fosil Urokodia ditemukan di situs fosil terkenal Chengjiang, yang terletak di provinsi Yunnan, di Tiongkok selatan. Publikasi penelitian tersebut bertepatan dengan peringatan 42 tahun ditemukannya situs ini.

Berukuran hanya 2 hingga 3 sentimeter, makhluk ini memiliki mata yang menonjol pada tangkai di bagian depan tubuhnya, kerangka yang tersegmentasi, dan anggota badan yang diartikulasikan di bawah bentuknya yang memanjang. Fisiognominya sangat berbeda dengan laba-laba dan kalajengking yang nantinya muncul dari garis keturunan evolusionernya yang luas.

Detail pemindaian sinar-X mempertahankan anatomi yang halus

Para ilmuwan dari Universitas Yunnan di Cina dan Universitas Leicester menggunakan teknologi sinar-X untuk menganalisis batuan di sekitar fosil tersebut. Gambar yang diperoleh menunjukkan bahwa sebagian besar anatomi jaringan lunak hewan tersebut tetap terawetkan dalam bentuk mumi selama jutaan tahun.

Yang terpenting, dua pelengkap berbentuk penjepit yang terletak tepat di belakang mata organisme itu berhasil diidentifikasi. Formasi ini dianggap chelicerae primitif, memberikan bukti tahap awal evolusi penjepit dan taring yang ada pada chelicerata masa kini.

Fosil tersebut juga menunjukkan kekhasan pada kaki Urokodia, kemungkinan insangnya yang berdaun, yang memungkinkannya bernapas di bawah air. Struktur pernapasan serupa masih terlihat pada chelicerata yang hidup di air, seperti kepiting tapal kuda.

Keberhasilan evolusioner dari garis keturunan pemburu

Chelicerata telah memantapkan dirinya sebagai salah satu kumpulan hewan paling sukses di ekosistem perairan dan darat. Spesies yang berpindah ke darat berevolusi menjadi predator yang sangat efektif, dan catatan fosil menunjukkan bahwa nenek moyang mereka berburu jutaan tahun yang lalu.

Meskipun laba-laba sering digambarkan sebagai makhluk menakutkan dalam film seperti “Arachnophobia”, sebagian besar spesies tidak menimbulkan risiko bagi manusia. Racun dan gigitan hewan-hewan ini telah berevolusi untuk menguasai mangsa yang jauh lebih kecil dari manusia.

Penyelidikan ini dipimpin oleh Profesor Yu Liu, dari Universitas Yunnan, yang juga menjabat sebagai profesor tamu di Universitas Leicester.

Profesor Liu berkata: “Kami menggunakan tomografi komputer sinar-X untuk memeriksa fosil-fosil ini dan memperlihatkan anatomi jaringan lunaknya, yang terawetkan dalam bebatuan selama ratusan juta tahun. Saat itulah kami tiba-tiba melihat anggota badan seperti penjepit di bagian depan hewan tersebut. Kami dengan mudah mengenali bahwa itu adalah fosil yang sangat menarik dan, pada kenyataannya, merupakan nenek moyang jauh dari chelicerae modern seperti kalajengking dan laba-laba.”

Urokodia sebagai kunci untuk memahami kehidupan primordial

Urokodia menghuni ekosistem laut yang melimpah pada tahap penting dalam sejarah evolusi hewan. Penemuan fosil di Chengjiang menyimpan catatan lebih dari 200 spesies hewan yang hidup di lautan lebih dari 500 juta tahun yang lalu.

Rekan penulis studi, Profesor Mark Williams, dari Fakultas Geografi, Geologi, dan Lingkungan di Universitas Leicester, menjelaskan: “Urokodia adalah bagian dari ekosistem kuno, dengan lebih dari 200 jenis hewan laut lebih dari 500 juta tahun yang lalu. Fosil-fosil yang diawetkan dengan sangat baik ini memberikan wawasan berharga tentang bagaimana kehidupan berkembang di planet kita pada ambang kehidupan hewan.”

Pendanaan untuk penelitian ini berasal dari hibah yang diberikan kepada Profesor Yu Liu oleh Departemen Sains dan Teknologi Provinsi Yunnan (referensi 202401BC070012), yang juga didukung oleh program penelitian.

To Top