Ketidakhadiran paksa Putri Beatrice dan Eugenie dari acara resmi kerajaan Inggris telah memicu konflik parah di balik layar di Istana Buckingham. Jarak yang terlalu lama dari para suster dari upacara adat menimbulkan keresahan di Inggris dan memperlihatkan perpecahan yang mendalam dalam inti keluarga. Upaya untuk menghindari perintah baru-baru ini yang membatasi penampilan publik kedua pewaris tersebut akhirnya memperburuk krisis dalam negeri lembaga tersebut.
Pers Inggris menunjukkan bahwa putri Pangeran Andrew terus menerus menghadapi isolasi internal. Para petinggi monarki berbeda pendapat mengenai perlakuan yang diberikan kepada keduanya menyusul skandal yang melibatkan ayah mereka, yang dicopot dari tugas kerajaan dan kehormatan militer pada awal tahun 2022. Kedua wanita tersebut, yang secara historis menduduki posisi sentral dalam dinamika keluarga kerajaan, kini berada di tengah perselisihan internal yang intens.
Perbedaan pendapat mengenai kehadiran ahli waris pada acara adat
Larangan perempuan kerajaan dalam perayaan bersejarah menimbulkan kekhawatiran tentang parahnya kebencian internal di istana. Pada bulan Maret, laporan internal mengindikasikan bahwa Beatrice dan Eugenie dilarang menghadiri pacuan kuda tradisional Royal Ascot. Jarak tersebut semakin terlihat ketika keduanya tidak menghadiri Chelsea Flower Show, sedangkan Garden Party yang terkenal mewakili acara bersejarah lainnya yang biasa mereka ikuti secara aktif.
Ketidakhadiran para putri dalam pameran musim semi tahunan, yang diselenggarakan oleh pejabat kerajaan, ditafsirkan oleh pengamat istana sebagai pesan pengucilan yang jelas. Ruang kosong yang tersisa di Chelsea Flower Show memicu reaksi langsung dari masyarakat, yang menunjukkan penolakan terhadap tindakan tersebut, dan tren ketidakpuasan ini mencapai para penasihat kerajaan. Pengosongan agenda putri-putri Andrew secara sistematis memperjelas adanya manuver yang disengaja untuk mengurangi kekuatan politik cabang monarki ini.
Putri Anne menentang isolasi yang diberlakukan pada keponakannya
Putri Anne menghadapi pengucilan di London dan mengambil sikap agresif untuk melindungi keponakannya. Putri mendiang Ratu Elizabeth II mengungkapkan ketidakpuasan mendalam terhadap kenyataan bahwa perempuan muda diabaikan akibat tindakan pihak ketiga. Konsensus di antara para veteran monarki menunjukkan bahwa, sejak memburuknya krisis institusional, saudara perempuan raja mempertahankan posisi pertahanan yang kuat terhadap Beatrice dan Eugenie.
- Demonstrasi dukungan yang jelas dan bijaksana terhadap kedua keponakan tersebut di balik layar Istana.
- Klasifikasi tindakan pembatasan sebagai tidak adil dan tidak proporsional.
- Upaya untuk membalikkan hilangnya hak untuk berpartisipasi dalam komitmen resmi di masa depan.
- Persyaratan kriteria transparan dalam pembagian fungsi di House of Windsor.
Argumen utama Putri Anne didasarkan pada prinsip pemisahan tanggung jawab keluarga. Sang pewaris secara internal menegaskan bahwa perlakuan terhadap putri harus adil dan tidak memihak. Bagi saudara perempuan Raja Charles III, menghukum keponakannya karena skandal pribadi Pangeran Andrew merupakan kesalahan strategis yang sangat besar, yang dapat melemahkan kohesi monarki di mata komunitas internasional.
Ratu Camilla menghadapi tuduhan mengoordinasikan kampanye eksklusi
Ratu Camilla, yang berada di pihak berlawanan dalam perselisihan keluarga, menghadapi kritik keras karena diduga secara langsung mencampuri keputusan raja. Sekutu Putri Anne menunjuk istri raja sebagai koordinator utama proses yang meminggirkan putri-putri berpangkat tinggi. Skenario tersebut menunjukkan bahwa Camilla menerapkan rencana yang bertujuan untuk menghapus Beatrice dan Eugenie secara permanen dari lingkaran sosial terpenting keluarga kerajaan.
Dugaan serangan Ratu Camilla bertujuan untuk melindungi citra publik institusi tersebut dari hubungan langsung dengan Pangeran Andrew. Kritikus internal percaya bahwa manuver ini berfungsi sebagai taktik untuk melemahkan pengaruh garis keturunan York. Bentrokan langsung antara Anne dan Camilla menimbulkan stres tingkat tinggi bagi tim komunikasi dan keamanan di Istana Buckingham.
Dampak skandal Duke of York terhadap masa depan monarki
Akar masalah yang memicu pertikaian internal terletak pada hambatan hukum dan citra yang dihadapi Pangeran Andrew, yang timbul dari hubungannya dengan pemodal Jeffrey Epstein, yang dihukum karena kejahatan seksual di Amerika Serikat. Duke of York kehilangan gelar militer dan perlindungan kerajaan karena keterlibatannya dalam skandal internasional. Sejak itu, kehadiran kerabat dekat mereka di acara-acara resmi diawasi secara ketat oleh penasihat Kerajaan.
Para pendukung pelarangan total berpendapat bahwa, terlepas dari gesekan yang terjadi, menjaga citra monarki pada masa pemerintahan saat ini adalah prioritas yang tidak dapat dinegosiasikan. Di sisi lain, kelompok yang dipimpin Putri Anne berpendapat bahwa Beatrice dan Eugenie memiliki sejarah perilaku yang patut dicontoh dan memberikan layanan yang relevan kepada masyarakat setempat. Kebuntuan yang terjadi saat ini mengancam akan melumpuhkan keputusan-keputusan penting mengenai keterwakilan raja dalam kegiatan internasional yang dijadwalkan dalam beberapa bulan mendatang.

