Mayat ditemukan di sebuah properti yang dilelang seharga R$2,7 juta di AS, menimbulkan keraguan tentang pembelian tersebut
Seorang pemilik baru sebuah properti yang dijual melalui lelang di Amerika Serikat mendapatkan penemuan yang mengejutkan. Saat memasuki kediamannya untuk pertama kalinya, dia menemukan tiga mayat. Pembelian senilai US$525 ribu (setara R$2,7 juta) terjadi di Connecticut.
Investigasi awal terhadap sisa-sisa di Burlington
Penemuan sisa-sisa manusia terjadi di dalam sebuah rumah di kota Burlington. Polisi menerima panggilan ke properti yang terletak di Stanwich Lane, pada Minggu (14), sekitar pukul 16.46, tak lama setelah pembeli baru memberi tahu apa yang terjadi.
Transaksi real estat telah diselesaikan hanya delapan hari sebelumnya pada lelang penyitaan. Properti tersebut dibeli pada tanggal 6 Juni dengan klausul “apa adanya”, artinya pembeli menerima properti tersebut dalam kondisi saat ini, tanpa penjual memberikan jaminan atas kondisinya.
Ditemukan bahwa mayat-mayat itu berada dalam kondisi pembusukan tingkat lanjut, hanya tinggal tulang. Hingga saat ini, identifikasi korban dan penentuan penyebab kematian masih belum diketahui.

Pada awalnya, otoritas kepolisian tidak mengidentifikasi tanda-tanda aktivitas kriminal. Insiden ini diperlakukan sebagai peristiwa terisolasi, dan polisi memastikan tidak ada ancaman terhadap keselamatan masyarakat. Unit Kejahatan Besar Kepolisian Negara Bagian AS bertanggung jawab untuk melakukan penyelidikan.
Setelah menemukan jenazah, petugas pemadam kebakaran melakukan pemeriksaan di tempat tinggal untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya karbon monoksida. Namun, kepala darurat Departemen Pemadam Kebakaran Relawan Burlington belum memastikan apakah gas tersebut benar-benar terdeteksi. Lokasi yang sama sudah menjadi sasaran panggilan pada 23 Mei karena alarm berbunyi.
Kondisi ditinggalkannya harta benda dan sejarah bekas penghuninya
Penampakan rumah tersebut menandakan sudah lama ditinggalkan. Terletak di jalan pribadi, rumah ini memiliki sedikit visibilitas bagi tetangga, dikelilingi oleh vegetasi lebat, semak-semak dan rumput tinggi yang menghalangi bagian balkon.
Hunian yang dibangun pada tahun 2002 ini memiliki empat kamar tidur dan terletak di atas sebidang tanah seluas lebih dari 8.000 meter persegi. Penghuni terakhir yang diketahui adalah Paul Cash dan Sally Anne Cash, yang membeli properti tersebut pada tahun 2019.
Pihak kepolisian belum memastikan apakah pemilik bekas termasuk di antara korban yang ditemukan. Pasangan ini telah menerima pemberitahuan gagal bayar atas pinjaman perumahan mereka pada awal tahun 2025, yang berpuncak pada pembukaan proses penyitaan pada bulan Agustus tahun yang sama.
Seorang pejabat pengadilan, ketika mencoba memberi tahu pasangan tersebut, tidak berhasil menemukan mereka di properti tersebut. Dia menggambarkan kesulitan dalam menemukan rumah karena vegetasi yang berlebihan dan melaporkan harus mengakses pintu melalui balkon. Tidak ada yang menjawab, dan seorang tetangga menyebutkan sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan warga tersebut.
Paul dan Sally tidak mengajukan pembelaan dalam gugatan tersebut dan juga tidak menyewa perwakilan hukum. Akibatnya, Pengadilan memberikan izin, pada bulan Maret, agar properti tersebut dilelang.
Implikasi hukum penemuan terhadap keabsahan lelang real estate
Identifikasi orang-orang yang meninggal pada akhirnya dapat menimbulkan pertanyaan serius tentang keabsahan penyitaan tersebut. Pengacara yang menangani kasus ini telah meminta klarifikasi dari Pengadilan, dengan menekankan bahwa keabsahan keputusan pengadilan dapat dipengaruhi secara langsung oleh identitas korban dan tanggal kematian mereka, yang menambah lapisan kompleksitas hukum yang tidak biasa bagi pembeli properti di lelang.
Menariknya, belum ada seorang pun yang mengakses bagian dalam rumah pada hari lelang. Meskipun ada situasi ditinggalkan, dua tanda baru ditemukan di situs tersebut, dengan pesan yang menunjukkan “jangan masuk” dan “properti ditempati oleh pemilik”.
Investigasi masih berlangsung. Mayat-mayat tersebut telah dipindahkan dan dibawa ke kantor pemeriksa medis Connecticut, yang bertugas mencoba mengidentifikasi para korban dan mengetahui penyebab kematian mereka.
















