SoftBank berencana untuk menginvestasikan $10 miliar dalam proyek kecerdasan buatan di AS
SoftBank Group merencanakan penggalangan dana yang dapat mencapai $10 miliar untuk membiayai investasi baru di sektor kecerdasan buatan. Grup Jepang sedang mempertimbangkan untuk menerbitkan surat utang dalam dolar di Amerika Serikat dengan tujuan meningkatkan jumlah yang diperlukan untuk mempercepat ekspansi mereka di pasar teknologi global.
Strategi ini dilakukan pada saat restrukturisasi portofolio perusahaan yang dipimpin oleh miliarder Masayoshi Son. SoftBank berupaya untuk mengkonsolidasikan posisinya sebagai salah satu investor utama dalam infrastruktur teknologi dan pengembangan perangkat lunak cerdas, dengan memanfaatkan kuatnya aliran modal yang diarahkan ke ekosistem ini di pasar Amerika Utara.
Strategi pembiayaan di pasar Amerika
Untuk mencapai tujuan keuangan tersebut, SoftBank sedang mempertimbangkan untuk menerbitkan obligasi korporasi dengan nilai nominal yang signifikan yang ditujukan untuk investor institusi asing. Operasi tersebut mencerminkan preferensi perusahaan untuk mengumpulkan dana secara langsung dalam dolar, yang mengurangi risiko nilai tukar untuk investasi yang dilakukan di Amerika Utara dan Eropa.
Penerbitan surat berharga tersebut masih bergantung pada kondisi pasar yang menguntungkan dan persetujuan akhir dari badan pengatur di Amerika Serikat. Para analis berpendapat bahwa pendanaan tersebut akan menguji selera investor terhadap utang dari perusahaan induk teknologi, terutama setelah periode volatilitas dalam neraca grup sebelumnya.

Fokus mutlak pada perluasan kecerdasan buatan
Jumlah miliaran dolar tersebut akan dikelola sepenuhnya untuk mendongkrak kehadiran SoftBank di segmen kecerdasan buatan. Target potensialnya mencakup perusahaan semikonduktor, pusat data, dan pengembang model bahasa skala besar.
Dalam beberapa bulan terakhir, kepemimpinan kelompok tersebut telah mengisyaratkan bahwa kecerdasan buatan telah menjadi poros utama dari semua tesis investasi baru dana tersebut. Tujuannya adalah untuk mengulangi dampak yang dialami perusahaan di awal era internet seluler, dengan menjamin kepemilikan saham yang relevan di perusahaan rintisan yang akan memimpin transformasi digital berikutnya.
















