Buku ini merinci perlawanan Taiwan terhadap narasi Beijing dan mengeksplorasi aspirasi demokrasinya
Sebuah studi baru memperdalam pemahaman tentang Taiwan, pulau demokrasi yang berdiri secara unik dalam menghadapi ambisi Tiongkok. Dalam karyanya “Taiwan: Sebuah demokrasi yang menghadapi Tiongkok”, pakar dunia Tiongkok Jean-Pierre Cabestan mengkaji dan mendekonstruksi kesalahpahaman tentang wilayah tersebut, menyoroti dinamika geopolitik yang kompleks di Asia. Tujuan utamanya adalah untuk menyangkal narasi dominan dan menyajikan visi yang lebih lengkap tentang pulau tersebut.
Volume berjudul “Taiwan. Sebuah demokrasi di hadapan Tiongkok”, ditulis oleh Jean-Pierre Cabestan dan diterbitkan oleh Le Cavalier Bleu. Dengan 200 halaman, salinannya tersedia dengan harga 21 euro.

Penulis mengawali analisisnya dengan menyikapi pidato-pidato yang memperkuat sejarah versi Tiongkok, seperti pernyataan Donald Trump pada 15 Mei setelah lawatan ke Tiongkok. Pada saat itu, mantan presiden Amerika tersebut menyatakan bahwa Taiwan “telah menjadi milik mereka [Tiongkok] selama ribuan tahun, mereka kehilangannya dan mereka menginginkannya kembali”. Namun Cabestan menggunakan “ide-ide yang sudah terbentuk sebelumnya” ini sebagai titik awal untuk monografnya, mengeksplorasi realitas entitas yang, meskipun relevan secara global, tidak memiliki kursi di PBB.
Melalui penyelidikan yang cermat dan mudah diakses, peneliti mengungkap persepsi yang disebarluaskan oleh Tiongkok, yang terus berupaya melegitimasi dan menjadikan reunifikasi dengan Taiwan sebagai hal yang tak terelakkan. Buku Cabestan mengungkapkan bahwa Taiwan memiliki aspirasi yang berbeda dan berupaya mempertahankan otonominya, bahkan dalam menghadapi tekanan dan intimidasi yang terus-menerus. Karya ini menyoroti “lintasan unik” pulau tersebut, menunjukkan faktor-faktor yang membedakannya dan memperkuat identitas demokrasinya.
















