Pengadilan federal melarang penggunaan sistem SAVE oleh negara bagian dalam memeriksa kewarganegaraan pemilih
Keputusan yang diambil oleh hakim federal hari Senin ini menganggap ilegal database federal SAVE (Verifikasi Sistematis Orang Asing untuk Manfaat), yang digunakan oleh negara bagian Mississippi untuk mengonfirmasi kewarganegaraan pemilih. Keputusan tersebut menetapkan bahwa sistem tersebut, yang dimodifikasi pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump, tidak dapat digunakan dalam konfigurasi saat ini.
Hakim Pengadilan Distrik AS Sparkle L. Sooknanan setuju dengan argumen kelompok advokasi, yang mengatakan bahwa perubahan terbaru pada program ini mengumpulkan data pribadi sensitif dari warga AS, sehingga menimbulkan risiko penghapusan pemilih yang tidak tepat dari daftar.
Sooknanan menyatakan dalam perintahnya bahwa “pemerintah federal dengan sengaja melanggar hak privasi warga negara Amerika dengan cara yang mengancam hak suci untuk memilih.” Hakim menekankan bahwa pengadilan tidak bisa tinggal diam dalam situasi seperti ini.
Dampak keputusan di Mississippi dan undang-undang SHIELD
Dampak langsung dari tindakan tersebut di Mississippi masih belum jelas. Awal tahun ini, Gubernur Tate Reeves menandatangani UU SHIELD, yang memberi wewenang kepada Menteri Luar Negeri untuk mengintegrasikan pendaftaran pemilih lengkap di negara bagian tersebut ke dalam database SAVE.

Undang-undang tersebut menetapkan bahwa pemilih yang diidentifikasi melalui proses verifikasi harus menerima pemberitahuan dari negara bagian dan memiliki waktu 30 hari untuk menunjukkan bukti kewarganegaraan Amerika, yang menjamin persetujuan pendaftaran mereka.
Selain itu, UU SHIELD mewajibkan menteri luar negeri untuk memverifikasi pendaftaran pemilih terhadap database SAVE selambat-lambatnya 180 hari sebelum pemilihan federal reguler.
Kantor Menteri Luar Negeri Michael Watson didekati oleh Mississippi Free Press untuk memberikan komentar mengenai situasi tersebut, tetapi tidak ada tanggapan pada saat publikasi aslinya.
Argumen tentang pelanggaran privasi dan reaksi politik
Hakim Sooknanan menunjukkan bahwa Kongres telah secara tegas melarang pemerintah memusatkan informasi identitas pribadi orang Amerika. Dia menyatakan bahwa lembaga federal yang bertanggung jawab untuk membuat program SAVE menyadari bahwa database tersebut melanggar perlindungan hukum ini.
Keputusan tersebut merupakan kemunduran hukum yang signifikan bagi Presiden Donald Trump dalam upayanya untuk memperalat lembaga-lembaga federal. Ia berupaya untuk mendorong penindasan nasional terhadap orang asing yang diduga terdaftar secara ilegal dalam daftar pemilih negara bagian. Sistem SAVE yang dimodifikasi merupakan pilar utama dari perintah eksekutif pemilu kedua Partai Republik yang ditandatangani tahun ini yang bertujuan untuk merombak pemilu federal, dan kini masa depannya tidak pasti.
James Percival, penasihat umum di Departemen Keamanan Dalam Negeri, mengomentari keputusan tersebut dalam sebuah postingan di media sosial: “Sungguh luar biasa bagaimana kaum kiri berjuang sekuat tenaga untuk menghentikan kita menyelesaikan masalah yang mereka anggap tidak ada.”
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) mengindikasikan publikasi Percival sebagai posisinya dalam keputusan tersebut. Departemen Kehakiman tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Sejarah sistem SAVE dan tantangan hukumnya
Program SAVE didirikan berdasarkan undang-undang imigrasi yang memberikan DHS tanggung jawab untuk membantu lembaga federal, negara bagian, dan lokal dalam mencegah pemberian tunjangan pemerintah kepada non-warga negara. Sejak pemerintahan Trump secara signifikan memperluas kemampuan pencariannya mulai bulan April 2025, setidaknya 25 negara bagian, termasuk Mississippi, menggunakannya untuk memverifikasi catatan pemilih mereka. Program ini telah menganalisis lebih dari 67 juta data, namun para kritikus menyatakan kekhawatiran bahwa program ini dapat mengakibatkan pengecualian terhadap pemilih yang sah.
Penggugat, termasuk Liga Pemilih Perempuan, Pusat Informasi Privasi Elektronik, dan lima warga negara AS yang tidak disebutkan namanya, menuduh bahwa SAVE yang diperbarui melanggar privasi dan hak memilih warga Amerika. Kelompok tersebut juga menunjukkan bahwa pemerintahan Trump melanggar undang-undang privasi federal dengan mengabaikan persyaratan transparansi terkait perubahan sistem.
Hakim menulis bahwa lembaga-lembaga yang terlibat berjuang untuk mematuhi Perintah Eksekutif yang bertujuan untuk “membentuk kembali pemilu federal” dengan mengarahkan mereka untuk menciptakan sistem verifikasi pemilih massal. Dia menambahkan bahwa ada kombinasi yang “tidak teratur” dan penggunaan kembali informasi pribadi dari jutaan orang Amerika, termasuk data kewarganegaraan yang diketahui tidak dapat diandalkan.
Nikhel Sus, pengacara penggugat, memperingatkan pengadilan pada sidang bulan Oktober bahwa warga negara yang dinaturalisasi mempunyai risiko lebih tinggi untuk dicoret dari daftar pemilih secara tidak patut.
“Mereka sangat rentan terhadap kesalahan database,” kata Sus, seorang pengacara di Citizens for Responsibility and Ethics di Washington.
Pada hari Senin, Sus menggambarkan keputusan Sooknanan sebagai “kemenangan secara keseluruhan.” Dia mencatat bahwa penggugat senang bahwa keputusan pengadilan menegaskan kembali argumen bahwa pemerintah federal tidak memiliki kewenangan untuk secara bebas membagikan data sensitif di antara lembaga-lembaganya.
















