Berita Terbaru (ID)

Komet 10P/Tempel 2: pengamatan langka mengungkap detail jejak debunya di bulan Juli

cometa 10P/Tempel 2 - Reprodução/ESA
Foto: cometa 10P/Tempel 2 - Reprodução/ESA

Para astronom dan penggemar langit akan memiliki kesempatan unik untuk mengamati komet 10P/Tempel 2, yang menampilkan jejak debu langka yang mengingatkan kita pada cincin Saturnus jika dilihat dari samping. Aliran kuno partikel yang lebih besar ini, berbeda dari ekor komet pada umumnya, mengikuti jalur orbit bintang. Ditemukan pada tahun 1873, komet berdiameter 10,6 kilometer ini menyelesaikan orbit matahari setiap 5,4 tahun, dan perihelionnya akan terjadi pada tanggal 2 Agustus, dengan jarak terdekat ke Bumi pada tanggal 3 Agustus 2026. Jejak debu tampak sangat sempit dan terang antara tanggal 18 dan 22 Juli 2026, periode ketika Bumi melintasi bidang orbitnya. Meski tidak terlihat dengan mata telanjang, namun dimungkinkan untuk mengamatinya dengan teropong atau teleskop kecil di konstelasi Capricorn, di tempat dengan cahaya redup. Untuk menangkap jejak yang khas, Anda perlu menggunakan astrofotografi.

Komet 10P/Tempel 2 dapat dilihat di langit bagian selatan setelah senja di belahan bumi utara. Pengamatan memerlukan penggunaan teropong atau teleskop.

Komet 10P/Tempel, juga dikenal sebagai Tempel 2, baru-baru ini melewati tata surya bagian dalam, memberikan kesempatan unik untuk mengamati salah satu fitur paling luar biasa yang pernah tercatat pada sebuah komet. Bagi para pengamat langit, ini merupakan kesempatan untuk menyaksikan aliran puing-puing yang terakumulasi selama berabad-abad perjalanan mengelilingi Matahari.

Ciri-ciri dan orbit komet 10P/Tempel 2

Komet 10P/Tempel 2 pertama kali ditemukan pada tanggal 4 Juli 1873. Diameternya diperkirakan mencapai 10,6 kilometer, ukurannya sebanding dengan Komet Halley yang terkenal. Ia menyelesaikan satu putaran mengelilingi Matahari dalam waktu sekitar 5,4 tahun dan sudah terlihat melalui teropong atau teleskop kecil di konstelasi Capricorn.

Bintang tersebut akan mencapai perihelionnya, titik terdekatnya dengan Matahari, pada 2 Agustus 2026. Kemudian ia akan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada 3 Agustus 2026, dan tetap terlihat selama beberapa minggu.

Representasi visual posisi komet di langit malam dapat membantu pengamat mengidentifikasinya dengan lebih akurat selama periode pengamatan.

Bagikan

Berita lainnya di Berita Terbaru (ID)

Lihat lainnya