Satelit mendeteksi deformasi 30 sentimeter di kerak bumi akibat gempa bumi di Venezuela
Gambar yang diambil melalui satelit oleh Badan Antariksa Eropa (ESA) mengungkapkan besarnya perpindahan tanah di Venezuela, yang disebabkan oleh dua gempa kuat yang terjadi pada Selasa, 24 Juni.
Data yang digunakan untuk menyusun gambar tersebut berasal dari satelit Sentinel-1, bagian dari program observasi bumi Copernicus milik Uni Eropa (UE). Menurut laporan terbaru yang dirilis pada Rabu, 8 Juli, gempa bumi tersebut mengakibatkan 3.811 korban jiwa di negara Amerika Selatan tersebut.
Selengkapnya tentang topik ini: Gempa bumi di Kolombia: kematian mencapai 294 dan ribuan orang terkena dampaknya
Namun, satelit-satelit ini tidak beroperasi dengan foto-foto umum; mereka menggunakan radar yang “menerangi” permukaan bumi dan menghitung waktu kembalinya sinyal ke sensornya.
Dengan menganalisis secara komparatif dua pengukuran pada area yang sama pada periode berbeda, peneliti dapat mendeteksi pergerakan apa pun di tanah, bahkan perubahan yang tidak terlihat dengan mata telanjang.
Baca selengkapnya: Citra satelit menunjukkan deformasi tanah yang ekstrim setelah gempa bumi di Venezuela
Untuk membuat peta, para ilmuwan membandingkan data dari pengukuran yang dilakukan pada 18 Juni, enam hari sebelum gempa bumi, dengan pengukuran lain pada tanggal 25 Juni, satu hari setelah dua gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 skala Richter.

Hasil perbandingan ini disebut interferogram, yaitu representasi visual yang menggambarkan besarnya deformasi tanah setelah kejadian seismik.
Seperti dijelaskan ESA, peta tersebut menunjukkan pita berwarna yang berulang secara horizontal di wilayah utara. Setiap siklus lengkap dari pita-pita ini menunjukkan peningkatan konstan dalam jarak antara satelit dan bumi, yang berarti bahwa intensitas siklus mencerminkan tingkat akumulasi perpindahan.
Dalam topik yang sama: Ahli seismologi mengidentifikasi struktur tektonik sepanjang 250 km di bawah Alaska setelah gempa bumi
Pembentukan pita-pita ini di bagian utara peta sama persis dengan wilayah episentrum gempa, tempat terjadinya deformasi terbesar. Mereka mengikuti sistem patahan San Sebastián, sebuah struktur tektonik penting di Venezuela utara. ESA menghitung perpindahan sekitar 30 sentimeter di area ini.
Namun perkiraan tersebut bukan berarti tanah hanya naik atau turun 30 sentimeter saja. Gempa bumi dapat menimbulkan pergerakan yang kompleks, termasuk pengangkatan, penurunan, atau perpindahan lateral, seringkali dalam kombinasi. Untuk pemahaman yang lengkap, bentuk citra satelit dan pengukuran terestrial lainnya sangat diperlukan.
Namun, penerapan prosedur-prosedur pelengkap ini sepertinya tidak mungkin dilakukan dalam jangka pendek. Pihak berwenang Venezuela dan tim bantuan internasional tetap fokus dalam menanggapi krisis kemanusiaan yang serius, menangani bangunan yang runtuh dan ribuan orang hilang.
Beberapa badan antariksa dan pusat pemrosesan data dari berbagai negara berkolaborasi untuk berbagi informasi guna mendukung upaya pemulihan. NASA, misalnya, mengaktifkan Sistem Koordinasi Tanggap Bencana untuk membantu mengidentifikasi area dengan risiko terbesar di wilayah yang terkena dampak.














